Mendengar nama gunung slamet, gw jadi teringat oleh sosok soe hok gie.. pada jamannya beliau pernah menapaki puncak gunung slamet ini, seperti dia tulis dalam bukunya Zaman Peralihan, yang juga dimuat di Koran Kompas 14, 15, 16, dan 18 September 1967.
Berikut isi tulisan Soe Hok Gie mengenai pendakian gunung tertinggi di Jawa Tengah ini
Menaklukkan Gunung Slamet
Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth. (Walt Whitman, Song of the Open Road)
Ketika saya menyatakan akan memimpin pendakian Gunung Slamet bersama para mahasiswa, seorang kawan menyatakan bahwa saya gila. "Gunung itu tingginya 3.422 m, gunung nomer dua di Pulau Jawa. Dan menurut Junghun, ia mendaki gunung itu dengan merangkak. Di puncaknya pada musim-musim tertentu suhu dapat turun sekitar nol derajat." Apa yang dikatakan kawan itu memang benar. Seorang rekan organisasi pendaki gunung di Bandung, Wanadri, mengatakan bahwa ketika ia masih bersama rombongan RPKAD mendaki dari lereng selatan, ia memerlukan waktu sebelas jam tanpa istirahat. Lagipula di Gunung Slamet tak ada air. Akhirnya saya putuskan bahwa saya akan mendaki gunung ini. Enam kawan yang terkuat berjalan seminggu sebelum kami. Sepulangnya, mereka memberikan semua informasi yang diperlukan. Dan selama itu saya mempersiapkan hal-hal yang perlu di Jakarta. Dalam rencana, peserta yang akan turut berjumlah 15 orang. Biaya transpor termurah kira-kira Rp. 400,00 pp. Sehingga diperlukan kira-kira Rp. 6.000,00 untuk biaya perjalanan. Uang kas Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam UI) hanya ada Rp. 1.200,00. Jadi saya harus mencari kira-kira Rp. 4.800,00.
"Mengemis"
Seminggu sebelum berangkat kawan – kawan mulai `mengemis'. Hasilnya terkumpul Rp. 3.300,00 ditambah dengan obat-obatan (dari Apotik Titi Murni) dan beberapa buah barang kalengan. Kekurangannya dipikul oleh kawan-kawan, yang rata-rata juga tidak punya uang. Tetapi akhirnya, kami memutuskan untuk berangkat. Setiap kali kami minta sumbangan kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan – slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung. Melihat alam dan rakyat dari dekat secara wajar dan di samping itu untuk menimbulkan daya tahan fisik yang tinggi. "Libur ini kami ingin mendaki gunung yang berat," kami terangkan pada mereka.
Start
Tanggal 22 Agustus pagi, lima belas mahasiswa UI berkumpul di Gambir untuk menuju ke Tegal. Saya sendiri bertindak sebagai pemimpin rombongan Mapala ini. Di antara peserta terdapat 3 mahasiswi, Luki Bekti, Olga Katuk, dan Mayang Sari. Ketiganya telah berpengalaman mendaki gunung. Perjalanan Jakarta-Tegal ditempuh dengan cepat. Demikian pula Tegal-Slawi. Dari Slawi mulailah timbul persoalan-persoalan sulit.
Dalam rencana, dari Slawi kami naik truk omprengan ke Bumijawa yang berjarak sekitar 30 km ke arah selatan. Tetapi ternyata daerah yang harus kami lalui tertutup, karena dipakai latihan AKABRI. Kami mencoba mencari berbagai keterangan tentang kemungkinan untuk melewati daerah latihan. Pamongpraja yang kami tanyai tidak tahu. Polisi yang kami kontak memberikan keterangan yang tidak meyakinkan. Akhirnya kami pergi ke Koramil. Seorang bintara menemui kami. Kami jelaskan tujuan kami dan ia sangat ramah. Ternyata kami dapat melalui jalan tadi, bahkan bintara ini mencarikan kendaraan. Ia berbicara terus terang dan sangat simpatik. Memang di desa-desa dan kota-kota kecil terasa betapa eratnya hubungan antara tentara dan rakyat. Sore hari kami numpang truk untuk AKABRI menuju sebuah desa kira-kira 10 km dari Bumijawa untuk putar film di sana, mereka membawa rombongan mahasiswa ini. Dalam perjalanan, kami berkenalan dengan seorang pemuda yang berasal dari Bumijawa. Orangnya sangat ramah dan terbuka. Tak lama kemudian rombongan telah menjadi sahabat-sahabatnya.
Pukul setengah enam kami sampai ke desa tersebut. Truk berhenti dan perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki. Sepanjang jalan saya ngobrol dengan pemuda dari Bumijawa tadi. Jalannya melalui bukit-bukit dan di sana-sini terlihat hutan-hutan pinus. Kami melalui pula daerah latihan taruna-taruna AKABRI yang beberapa di antaranya adalah teman-teman di SMA dulu. Mereka ribut dan mulai membuat jokes, karena melihat di antara kami terdapat mahasiswi.
Setelah melewati rombongan AKABRI, kami mulai hutan pinus. Matahari terbenam dan di bawah kami terlihat pemandangan yang indah sekali. Bukit-bukit botak dan sungai-sungai kecil yang melenggok seperti gadis genit yang sedang berjalan. Hutan pinus membuat suasana lebih indah. Angin senja yang segar membuat kami asyik dengan pikiran masing-masing.
Saya tanyakan kepada pemuda ini tentang suasana di daerahnya. Daerahnya adalah daerah PNI dan NU. Golongan-golongan ini tidak akur. Sehari sebelum 17 Agustus, Lesbumi membuat pertunjukan. Kemudian LKN. Pada pertunjukan kedua ini terdapat clash. Sebagai Hansip ia harus melerainya. Ia menyatakan kesedihannya atas "perang-perang kecil" yang selalu terjadi di pedalaman Jawa Tengah.
Dahulu di daerah ini terdapat orang-orang PKI yang bekerja di Jawatan Kehutanan. Mereka menebangi hutan. Dicegah sulit sekali karena PKI kuat dan menjalankan terror. Ketika meletus Gestapu terjadi hal yang sebaliknya. Beberapa ratus PKI dibunuh. "Itu tempatnya di bawah bukit dekat pohon-pohon pisang," katanya. Sebagian dari mereka PKI lari ke hutan-hutan dan membakar hutan. Daerah itu sekarang telah aman. Di desa yang terpencil ini terdapat sebuah kamp tawanan untuk PKI. Mereka disuruh bekerja untuk penduduk setempat dan hasilnya untuk makan mereka sendiri.
Saya sedih sekali melihat benih-benih pertentangan politik yang disebarkan dari Jakarta telah tumbuh ke desa-desa yang terpencil. Mungkin yang bertengkar adalah DPP PNI dan NU karena soal-soal rezeki, tetapi apakah ini harus juga memecah sahabat – sahabat yang kebetulan ormas – ormasnya GPM dan Ansor. Di rumah orang-orang PNI masih tetap terpasang gambar bekas Presiden Soekarno. Seorang letkol yang saya temui pada waktu latihan AKABRI menyatakan, bahwa di Bumi jawa Presiden RI adalah Soekarno.
Pemuda ini bertanya pada saya tentang KAMI dan situasi Jakarta. Dia sangat ingin tahu tentang ibukota. Saya jelaskan, situasi Jakarta seperti apa adanya. "Sebagian dari pemimpin – pemimpin KAMI adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil dan tukang kecap pula. Tetapi sebagian dari mereka jujur." Saya jelaskan seperti apa adanya. Juga tentang Soekarno. Saya tidak tahu apakah dia pendukung Soekarno atau bukan. Karena di seluruh daerah ini, Soekarno masih tetap merupakan mitos.
Saya katakan bahwa Soekarno telah banyak menyengsarakan rakyat. Tetapi ini tidak berarti bahwa para penentang Soekarno secara otomatis pahlawan pembela rakyat. "Banyak di antara mereka juga bajingan-bajingan dan oportunis."
Antara saya dan dan pemuda desa ini terdapat banyak sekali perbedaan-perbedaan. Pendidikan, pekerjaan, latar belakang kebudayaan, cita-cita dan lingkungan. Tetapi karena kami berbicara secara jujur dan terbuka, kontak pribadi menjadi mesra. Percakapan ini berlangsung di antara hutan-hutan pinus dan bukit-bukit botak. "Kalau sekiranya banyak pemuda Jakarta seperti kawan-kawan ini, saya masih punya harapan pada Jakarta," katanya perlahan. Baginya, Jakarta adalah sumber hipokrisi, kemunafikan dan dekadensi manusia.
Bermalam
Malam itu juga kami bermalam di Bumijawa setelah seharian berjalan. Setelah mengurus surat-surat (yang menjadi sulit karena bentrokan Ansor-GPM) dan membeli 35 buah lontong, kami tidur (numpang di rumah pemuda tersebut). Sebagian kawan masak nasi sebanyak-banyaknya untuk makan besok pagi dan siang. Pukul 05.00, kami berjalan lagi melalui Tuwel menuju desa terakhir di Kedaung. Setelah 4 jam berjalan, kami sampai ke desa tersebut. Di tengah jalan perbekalan ditambah dengan 50 buah serabi untuk 15 orang. Istirahat sejam dan selama istirahat air – air diisi dan diadakan checking terakhir. Lima belas anggota dengan 15 veldvlesh, 35 lontong, 30 serabi (sisa), beberapa rantang nasi dan makanan kering ditambah dua jug air. Kondisi fisik tidak terlalu baik karena perjalanan yang jauh selama delapan jam sebelumnya. Tetapi semangat untuk memulai pendakian baik dan suasana riang terasa. Pukul 10.00 tepat setelah doa bersama, pendakian dimulai. Jam pertama kami melalui hutan – hutan pinus. Rombongan terdepan, Maulana, Wiyana dan saya sendiri tersesat di hutan – hutan pinus yang banyak mempunyai jalan bercabang. Setelah melalui sungai kering, perjalanan sesunguhnya dimulai. Jalannya mendaki sekali., tetapi jelas dan tidak tertutup. Rombongan praktis terpecah dua. Yang berangkat pertama yang kuat – kuat. Tiga orang membawa tenda dengan instruksi agar pada pukul 16.00 sore berhenti dan segera mencari camping site.
Hutan-hutan Gunung Slamet membosankan sekali. Tidak seindah seprti Gunung Pangrango ataupun menakjubkan seperti Gunung Merapi. Jalannya panjang dan berliku – liku. Pendakian – pendakian yang terjal pada hari itu hampir tak dijumpai. Pukul 14.00 berhenti untuk makan siang dan berjalan kembali hingga pukul 17.00. Tenda yang disiapkan oleh rombongan depan telah siap dan seluruh rombongan istirahat. Untuk sampai ke puncak, kami harus melalui tiga punggung bukit. Hari pertama hanya sampai pada batas penyeberangan bukit pertama. Makan malam segera diatur, walaupun baru pukul 18.00 sore. Malam itu setiap orang mendapat sebuah lontong dan air secangkir, karena persediaan air harus dihemat. Mereka sebenarnya masih lapar dan haus, tetapi jatah malam itu hanya sedemikian. Dan "rasa sedih" ini dimanifestasikan dalam bentuk jokes. "Kalau mami gue melihat apa yang gue makan, gue ngga boleh ikut lagi deh," kata Eng Lay sambil tertawa. "Apalagi kalau mertua gue liat, disuruh putus deh sama bini gue," kata Koy.
Malam itu rombongan tidur dipecah tiga. Wanita tidur di tenda kecil. Pria delapan orang bersesakan di tenda besar. Selebihnya tidur di udara terbuka dekat api unggun. Dan sebagaimana biasa, sebelum tidur kami bergurau terus-menerus. Pada malam hari terdengar suara-suara aneh. Mungkin suara harimau kecil (macan congklok).
Keesokan Harinya
Pukul 04.00 pagi hari Kamis, semua rombongan telah bangun. Waktu untuk packing sejam dan kemudian perjalanan dimulai lagi tanpa makan pagi. Perjalanan mulai menjadi berat karena harus melewati pohon – pohon tumbang. Lebih-lebih untuk saya yang membawa ransel besar. Saya sering tersangkut-sangkut. Pukul 10.00, rombongan utama stop untuk makan pagi.Sarapan pagi benar-benar menyedihkan. Dua blik sup dibuka dan setelah ditambah dengan air dan roti, kami masak bubur roti. Roti tawar telah dilumatkan dengan air dan dua kaleng sup dimakan berdua belas. Hemat, karena tak usah minum lagi. Haus sudah sangat terasa karena perjalanan yang lama. Tetapi persediaan air harus dihemat. Untuk menahan haus diberikan gula merah dan beberapa mahasiswa makan mangga muda agar air liur keluar. Tetapi obat satu-satunya dari haus hanyalah air.Dua jam kemudian, kami sampai di sebuah daerah rerumputan. Pohon-pohon tidak ada lagi dan puncak Gunung Slamet telah kelihatan. Botak dan terjal. "Akhirnya kelihatan juga si Botak," kawan-kawan mulai bergurau. Gunung Slamet diganti menjadi si Botak. Sebelum batas hutan terakhir, terdapat sebuah gua. Mereka yang ingin mendaki Gunung Slamet biasanya bermalam di gua ini, karena agak terlindung dari angin malam yang sangat dingin. Waktu kami sampai di sana, terdapat serombongan pendaki gunung lain dari Indonesian Mountain Triper, Bogor. Sangat senang sekali bertemu dengan rombongan lain di tengah puncak gunung yang sepi ini. Sebagian dari kami ngobrol-ngobrol dengan mereka. Sebagian lagi ngobrol dengan pembawa beban mereka yang berjumlah beberapa orang. Pukul 12.30 pendakian terakhir dimulai. Tiga ratus meter terakhir sangat sulit. Kemiringan jalan kira-kira 60 derajat dan arealnya botak. Di sana-sini batu-batu besar dan di mana-mana terdapat pasir. Jalan harus hati-hati, karena tak ada tempat berpegang dan kalau jatuh akan terguling-guling di atas batu-batu padas dan pasir. Jarak 300 meter terakhir kami tempuh setengah jam.Para wanita naik dengan separuh digeret. Darmatin, Yudi dan saya menggeret wanita-wanita itu. "Gunung ini tidak untuk honeymoon," begitu komentar Udin sebelum ia mendaki. Di kalangan para anggota Mapala ada cita-cita bahw kalau mereka mendapatkan jodoh seorang pecinta alam, akan honeymoon di puncak gunung dan `mendengarkan konser burung-burung hutan'. Sebuah kata-kata yang umum di kalangan anggota Mapala, kalau mereka melamun tentang perkawinan. Dan Gunung Slamet, karena arealnya terlalu berat, pastilah bukan gunung yang ideal untuk honeymoon. Setidaknya untuk Udin.
Sampai di Puncak
Kira-kira pukul 14.00 siang, kami sampai di puncak Slamet. Lima belas meter di bawah kami terdapat lautan pasir (zandzee). Dan kawah gunung yang bagus sekali. Kawahnya jauh lebih besar dari Ciremai dan benar-benar mengagumkan. Dinding-dindingnya terjal dan curam. Di sana-sini kelihatan asap belerang mengepul dengan warna kuning dan hijau. Di pasir itu sendiri berjajar batu-batu dari berbagai organisasi dan pribadi yang pernah sampai ke sini. Dan satu di antara tulisan-tulisan itu "Aku Pendukung Soekarno". Ada beberapa kawan yang ingin menghapusnya, tetapi dilarang. Saya katakana bahwa kita harus menghormati the right of dissent. Dan setiap orang berhak untuk setuju ataupun tidak setuju dengan Soekarno.
Setengah tiga seluruh rombongan (kecuali dua wanita yang tak sanggup lagi berjalan) turun ke lautan pasir. Kami semua berdoa untuk keselamatan perjalanan ini, walaupun pulangnya masih jauh. Pukul tiga kami makan siang. Sekaleng kornet dibagi berlima belas sekadar tambahan kalori saja. Semuanya haus dan lapar. Setelah itu rombongan pulang kembali, karena keadaan fisik para anggota telah menurun sekali. Dua jam kemudian seluruh rombongan telah sampai pada batas hutan. Air kira-kira masih setengah juga. Kalau dibagi rata setiap orang akan mendapat secangkir teh. Setelah konsultasi dengan mahasiswa senior, diputuskan bahwa rombongan tidak akan berkemah dan akan jalan terus tanpa istirahat sampai desa. Jalan malam tidak banyak mengeluarkan tenaga. Kalau kami bermalam lagi dan berjalan lagi, dan berjalan tengah hari situasi akan sulit karena haus.
Mereka tidak diberi air, melainkan semua sisa air (kecuali veldvlesh) akan dimasak menjadi susu. Dan sore itu semuanya mendapat susu secangkir sebelum jalan. Makan malam ditiadakan. Untuk kalori diberikan gula. Pukul 06.00 rombongan pertama berangkat. Setengah jam kemudian rombongan kedua.
Pulang
Suasana sangat tidak ideal. Lapar, lelah, haus membuat semua oran sangat peka dan mudah tersinggung. Walaupun disiplin Mapala kuat, tetapi kadang-kadang terjadi `konsluiting' juga. Di tengah jalan, kira-kira pukul 23.00 malam rombongan dipecah dua. Rombongan pertama jalan dahulu dipimpin oleh Maulana dan saya sendiri. Rombongan kedua dipimpin oleh Darmatin.
Perjalanan rombongan pertama cukup baik, kecuali tersesat di hutan pinus dan beberapa clash kecil. Makin sulit keadaan, disiplin harus diperkeras dan hal ini membuat suasana kurang harmonis walaupun mereka semuanya patuh. Pukul empat lewat seperempat rombongan sampai di desa. Selama perjalanan, penyakit haus berkecamuk. Ada di antara yunior kami yang telah begitu "haus". Dia membuka veldvleshnya (yang telah kosong) dan minum. Padahal airnya telah tiada. Waktu saya tanyakan mengapa, jawabnya bahwa dengan membuka tutup veldvlesh dan pura-pura minum dia merasa sejuk. Setelah sampai di Kedaung, semuanya tidur di pos ronda malam. Ternyata kami hanya berani minum sedikit saja karena takut sakit.
Rombongan kedua lebih sial lagi. Dua di antara wanita itu sudah begitu lemah kondisinya. Dalam keadaan haus, lapar dan lelah mulai timbul hal-hal yang aneh. Halusinasi mulai datang pada mereka yang lelah. Mula-mula dia pingsan sebentar dan dari mulutnya terdengar suara: "Saya tidak mau lihat lagi." Kawan-kawan yang "mistik" percaya bahwa ia telah melihat setan. Mulailah keluar doa-doa anti setan. Yang Islam menyebut ayat-ayat Alquran. Bahkan ada pula yang berdoa secara Protestan walaupun ia seorang Islam. Karena keadaan telah krisis rombongan berhenti dan berkemah. Tak lama seorang pergi kencing ke balik pohon. Ia merasa melihat kaki yang berbulu dan menjerit. "Setan," katanya. Suasana benar-benar jadi kritis. Anak-anak yang merasa melihat setan dipaksa tidur dan rebah. Mereka istirahat empat jam dan baru sampai ke desa kira-kira pukul delapan pagi.
Saya sendiri tidak percaya pada setan, walaupun orang-orang yang kami tanyai menyatakan bahwa Gunung Slamet adalah gunung yang angker. Mereka yang merasa melihat setan adalah yang justru paling lemah kondisi fisiknya. Dalam keadaan ini mudah sekali timbul halusinasi. Saya sendiri pernah tidur sendirian di hutan yang sama selama satu jam dan tidak ada seekor setan pun yang datang berkunjung. Sebagian kawan-kawan Mapala percaya bahwa memang ada setan yang mau mengganggu, sebagian lagi menganggap bahwa yang ada hanyalah halusisnasi. Tetapi pembicaraan pagi itu, hari Jumat, adalah tentang setan-setan yang "berkunjung" ke Mapala.Pagi itu kami istirahat tiga jam di desa. Mandi, masak makanan, tiduran dan ngobrol. Dalam hati timbul perasaan puas dan bangga karena telah berhasil menaklukkan Slamet. Langkah selanjutnya adalah Semeru.
Tell them the difficulties can't be counted and let them are not only what will be but see with clairity these present times. Say obstacles exist they must encounter sorrow happens, hardship happens.The hell with it. Who never knew the price of happiness will not be happy. Forgive no error you recognize it will repeat it self, increase and afterwards our pupils will not forgive in us what we forgave (Yevtushenko, Lies)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar